31 Mar 2 Comments mamukismuntoro BLOG

 

 

…dari jaga tidurku, aku merekam apa yang ku temui,

dan berusaha membuang segala kepemihakkanku

…air mataku mengalir tanpa batas, menatap saudaraku makin jauh…”

-eddy hasby

Minggu, 31 oktober 1999, sehari setelah Tentara Nasional Indonesia (TNI) menarik pasukannya dari Timor Timur, atau dua bulan pasca referendum kemerdekaan Timor Leste (waktu itu Timor-Timur), Eddy Hasby, pewarta foto harian Kompas, memotret seorang gadis dengan rangkaian bunga di kepalanya saat mengikuti prosesi Bunda Maria di kota Dili. Detik itu juga, foto itu menjadi bagian sejarah panjang perjalanan Propinsi ke- 27 itu sejak berintegrasi pada 17 Juli 1976 hingga akhirnya sebagian besar rakyatnya memilih lepas dari Indonesia pada jajak pendapat 30 Agustus 1999.

Keputusan Edy Hasby untuk tetap tinggal dan meliput pasca referendum cukup beresiko mengingat situasi yang mengharuskan pers Indonesia harus angkat kaki dari Timor Leste . “ Dia segera merencanakan suatu liputan tidak melulu untuk konsumsi pemberitaan, namun mendokumentasikan dengan gayanya sendiri, bagaimana proses persalinan janin yang bernama Loro Sae itu”, tutur Oscar Motuloh dalam catatan buku The Long and Winding Road – East Timor karya Eddy Hasby.

 

Buku foto setebal 211 halaman ini diterbitkan pertama kali pada 2001 oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia. The Long and Winding Road – East Timor menjadi satu dari sedikit buku fotografi Indonesia yang merekam perjalanan negeri bekas koloni Portugis itu. Buku lain tentang Timor -Timur adalah East Timor, A Photographic Record (1992) karya Oscar Motuloh.

Oscar Motuloh, bersama almarhum Julian Sihombing, yang membidani buku foto ini lantas memilih potret medium close up sang gadis untuk sampul buku hard cover ini. Tatapan mata sang gadis ke lensa kamera Eddy Hasby seakan menjadi simbol perpisahan, sekaligus harapan bagi bangsa yang pernah jadi satu selama 23 tahun.

Foto-foto intro yang cukup menawan telah diracik apik oleh duet editor foto berpengaruh Indonesia ini. Siluet patung Kristus Raja di Fatucama, Dili menjadi pembuka perjalanan rekaman garda depan pewarta foto Eddy Hasby. Lantas, untuk menghubungkan cerita, foto potret Ray Kala Xanana Gusmao, pemimpin legendaris gerakan kemerdekaan Timor Leste, di penjara Cipinang, Jakarta diselipkan di bagian awal buku, tepat setelah foto dua halaman penuh siluet patung Kristus Raja.

Eddy Hasby tak saja merekam dengan pendekatan foto-foto hardnews yang menegangkan, dia juga menyisakan pandangan lainnya tentang lepasnya Timor Leste melalui momen-momen di luar gambaran panasnya situasi waktu itu. Lihatlah foto bocah bermain di jalan raya perbatasan bukit Dare- Dili ( hal. 18-19 ). Untuk melengkapi cerita, Eddy Hasby juga menyertakan rekaman foto yang dibuat pada tahun 1994 (hal.10-11) dan tahun 1997 ( hal. 16-17 ).

Puncak ketegangan antara warga pro kemerdekaan dan pro otonomi ditempatkan di pertengahan buku, tepatnya di halaman 82-83. Eddy Hasby, Peraih Grand Prix ACCU (UNESCO) World Photo Contest 1995 ini menyajikan detik-detik tumbangnya Bernadito Guterres, mahasiswa pro kemerdekaan dari Universitas Satya Wacana, Salatiga, di depan biara Santo Paulus, Dili, 26 Agustus 1999 atau empat hari jelang jajak pendapat.

Hingga November 1999, Eddy Hasby masih menyisakan waktu untuk merekam pasca kemerdekaan Timor-Timur. Dua halaman penuh buku diakhiri dengan gambar bocah-bocah yang menonton prasasti di para pejuang integrasi di Taman Makam Pahlawan Seroja, Dili, Timor Leste.

Catatan  imaji-imaji Timor Leste ini kembali mengemuka pasca gelombang buku fotografi Indonesia 5 tahun lalu. Saya mendapatan buku bagus ini dari Dimas Parikesit, seorang kawan di Yogyakarta. (mamuk ismuntoro)

 

 

 

 

 

 

The Long and Winding Road – EAST TIMOR

Fotografer : Eddy Hasby

Penerbit    : Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia

Tahun       : 2001

ISBN          : 979-95689-6-X