Web photo gallery Mamuk Ismuntoro, fotografer asal Surabaya yang kini aktif di Matanesia Pictures

BLOG

Kamera, Cinta dan Jaman

Kebakaran di kawasan Mega Mall, Mangga Dua, Surabaya, 1997

“Saya adalah fotografer yang tidak beruntung. Tidak beruntung untuk merasakan memotret secara analog”.

 Penggalan komentar Agung Sapto Utomo, sejawat di komunitas foto ini berlanjut hingga belasan komentar di grup Facebook Matanesia Community. Satu per satu bersahutan membalas komentar tentang kamera analog.

Seperti kisah manis silam, pembahasan kamera analog ini kemudian terus bergulir sampai tulisan ini diturunkan . Tak ada yang rela kisah manisnya terkubur begitu saja ditelan jaman digital, meski sejatinya sang analog masih berdenyut nadinya, pelan…pelan.

Kisah pengguna kamera analog memang sangat romantis. Sebentar…saya rasanya terbawa romansa melankolis analog. Hmm, sesekali boleh dong memutar kembali kisah dulu.

Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, 1999

Tak bisa dipungkiri, kamera analog ( SLR ) memang banyak menyimpan cerita setelah satu dekade lebih kemunculan era digital. Andai, era digital tak pernah muncul, barangkali saat ini kita hanya akan bernostalgia dengan hasil foto saja.

Seperti banyak diceritakan pengguna kamera analog, ritual menggulung rol film, mengukur akurasi pencahayaan dan harap cemas di bangku studio pinggir jalan memang nyaris tak tergantikan di era digital. Sementara kamera digital  mampu menjawab kecepatan, akurasi plus koreksi foto sekaligus dalam hitungan detik!.

Mengutip istilah seorang sahabat, ada hal yang tereduksi saat era digital menguasai aktifitas merekam subyek. Saya sangat mengerti asumsi sahabat ini. Betapa tidak, di lain waktu, seorang teman datang dan berkata: “Saya mau beli kamera ********, hasilnya ciamik soro!”. Tidak perlu belajar foto, dan …sim salabim..prok..prok..prok..jadi.

Maka lahirlah jutaan fotografer baru, dengan perlengkapan cukup dan penampilan meyakinkan. Tidak ada yang salah dengan proses ini. Layaknya proses kita dulu (pengguna analog), yang memotret apa saja yang ada di depan mata.

Kotak ajaib kamera digital memang merubah perilaku penggunanya. Baik pengguna pemula maupun pengguna ahli. Namun rasanya, untuk bertahan di era digital,  saya tak punya pegangan, kecuali mencintai  dasar-dasar fotografi. Itu saja.

 

~Tanggulangin,  di tengah hujan malam~

Kenjeran, Siapa Mau?

Melancong di “negeri sendiri” memang sepertinya membosankan. Apalagi saat ada yang ingin berkunjung kawasan Pantai Ria Kenjeran, Surabaya. Kenji, sebutan lain pantai Kenjeran sudah jamak bagi orang Surabaya, apalagi bagi pemburu lansekap matahari terbit.

Lantas, kapan terakhir anda melancong di sana? He he he, saya yakin kita lebih banyak meluangkan waktu ke kota lain atau memilih mengukur jalan di mall daripada ke Kenjeran.

Tapi kali ini, sedikit menghibur diri, saya bersama pasukan rumah bersepakat mampir lagi di Pantai Ria Kenjeran, setelah terakhir datang kira-kira 3-4 tahun lalu.

Wajah lamanya masih tersisa. Bangunan-bangunan besi bekas tribun  yang usang dan hamparan lapangan pacuan kuda yang hingga kini masih digunakan.

Wajah baru memang tak lebih dari atraksi beraroma religi.  Bangunan pagoda dan patung Budha. Ditambah kawasan baru sarat memori: “kya-kya”.

Jika ingin naik perahu, bulan-bulan ini saat yang tepat. Datanglah lebih pagi, sebelum jam 10, karena udara masih sejuk tengah pantai. Anda bisa menikmati waktu bersama 6- 7 penumpang lain berperahu sejauh kurang lebih 4 km di pantai Kenjeran. Cukup bayar 5 ribu per orang. Jika ingin lebih privat, bisa sewa satu perahu seharga 30 ribu. Mungkin suatu kali menarik juga kalau datang menjelang senja dan menyewa perahu.

Ah iya, bagi penyuka “wildlife”, masih banyak “kuntul” yang hinggap di mangrove dekat pusat jalan-jalan dan Sanggar Agung. Lensa 70 mm saya hanya bisa “menahan nafsu” untuk mengeksekusi sang burung yang kadang terbang menyusur pantai.

Kali ini saya beruntung, usai perjalanan kecil di pantai, sempat disuguhi pacuan kuda bersama puluhan pengunjung pantai Ria Kenjeran. Nah, sesekali melancong lagi di mantan kawasan wisata paling  populer Surabaya ini rasanya gak rugi, terutama bagi anda, yang lahir dan besar di Surabaya!

 

 

Bulan di Wajahmu

Kulihat bulan di wajahmu
Muncul dari tanah leluhurmu

Kulihat bulan di wajahmu
Terbujur kaku oleh nafsu

Kulihat bulan di wajahmu
Rupa bumi yang berangsur layu

Kulihat bulan di wajahmu
Tanpa ragu telah mengusirmu

Kedung Bendo  -  Maret 2012

Page 2 of 6123456