“Saya adalah fotografer yang tidak beruntung. Tidak beruntung untuk merasakan memotret secara analog”.
Penggalan komentar Agung Sapto Utomo, sejawat di komunitas foto ini berlanjut hingga belasan komentar di grup Facebook Matanesia Community. Satu per satu bersahutan membalas komentar tentang kamera analog.
Seperti kisah manis silam, pembahasan kamera analog ini kemudian terus bergulir sampai tulisan ini diturunkan . Tak ada yang rela kisah manisnya terkubur begitu saja ditelan jaman digital, meski sejatinya sang analog masih berdenyut nadinya, pelan…pelan.
Kisah pengguna kamera analog memang sangat romantis. Sebentar…saya rasanya terbawa romansa melankolis analog. Hmm, sesekali boleh dong memutar kembali kisah dulu.
Tak bisa dipungkiri, kamera analog ( SLR ) memang banyak menyimpan cerita setelah satu dekade lebih kemunculan era digital. Andai, era digital tak pernah muncul, barangkali saat ini kita hanya akan bernostalgia dengan hasil foto saja.
Seperti banyak diceritakan pengguna kamera analog, ritual menggulung rol film, mengukur akurasi pencahayaan dan harap cemas di bangku studio pinggir jalan memang nyaris tak tergantikan di era digital. Sementara kamera digital mampu menjawab kecepatan, akurasi plus koreksi foto sekaligus dalam hitungan detik!.
Mengutip istilah seorang sahabat, ada hal yang tereduksi saat era digital menguasai aktifitas merekam subyek. Saya sangat mengerti asumsi sahabat ini. Betapa tidak, di lain waktu, seorang teman datang dan berkata: “Saya mau beli kamera ********, hasilnya ciamik soro!”. Tidak perlu belajar foto, dan …sim salabim..prok..prok..prok..jadi.
Maka lahirlah jutaan fotografer baru, dengan perlengkapan cukup dan penampilan meyakinkan. Tidak ada yang salah dengan proses ini. Layaknya proses kita dulu (pengguna analog), yang memotret apa saja yang ada di depan mata.
Kotak ajaib kamera digital memang merubah perilaku penggunanya. Baik pengguna pemula maupun pengguna ahli. Namun rasanya, untuk bertahan di era digital, saya tak punya pegangan, kecuali mencintai dasar-dasar fotografi. Itu saja.





