28 Mar 7 Comments mamukismuntoro BLOG

Tiap generasi kerap berbahagia dan bangga dengan masa kelahirannya. Pun juga saya, sebagai bagian generasi X, yang lahir di era pertengahan 1960-1980an (tepatnya di tahun…tiiiiit, #rahasia), mengenal fotografi adalah kemewahan, meski kini sudah jamak anak-anak sekolah dasar menenteng DSLR sambil nyruput es teh dalam plastik.

Baiklah, singkat cerita, di Sabtu sore yang cerah pada 6 Januari 1996, adalah kesempatan lain untuk merekam peristiwa penting bagi saya. Hadir dan memotret di stadion legendaris, Gelora 10 Nopember Surabaya saat laga persahabatan yang dikenang sepanjang masa : PERSEBAYA vs PSV EINDHOVEN, salah satu klub besar Eropa yang didirikan di kota Eindhoven di mana pabrik lampu Philips berdiri pertama kali .

 

“Usai pertandingan, saya menyimpan semua kenangan pertandingan sore itu. Hingga kini, 21 tahun kemudian saya terlempar dalam lorong waktu gemuruh Sabtu sore yang membanggakan di Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya “

Saya tercatat sebagai mahasiswa semester VI saat itu. Tidak punya nyali untuk bergabung dengan pewarta lokal dan nasional yang sudah menempati ‘bangku’ masing-masing di pinggir lapangan dekat gawang. Saya memilih mojok, mencari ruang kosong beberapa meter dari seberang bangku cadangan Persebaya.

Waktu itu, birokrasi untuk memotret di Stadion Gelora 10 Nopember tak begitu ribet buat pemotret pemula seperti saya. Caranya, tenteng kamera dengan pede dan masuk lewat pintu VIP di barat stadion. Mungkin bagi petugas kala itu, siapa saja yang bawa kamera dianggap pewarta resmi. Atau saya saja yang sedang beruntung tak digubris petugas.

Saya tidak mengingat skor akhir pertandingan. Menurut catatan alm. Kholili Indro ( pewarta olah raga Jawa Pos ) seperti dikutip di laman emosijiwaku.com,  saat itu Persebaya kalah 2-6 (1-4). Dua gol Persebaya dicetak oleh Dodik Suprayogi (4′), dan Ajid (63′). Sedangkan enam gol PSV dicetak oleh Wim Jonk (3′, 18′) Luc Nilis 22′ pen) Boudewijn Zenden (44′,80′), dan R.Eykelkamp (54′).

Usai pertandingan, saya menyimpan semua kenangan pertandingan sore itu. Hingga kini, 21 tahun kemudian saya terlempar dalam lorong waktu gemuruh Sabtu sore yang membanggakan di Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya.

Ya, kala itu Persebaya ya Persebaya, satu, orisinil, dibanggakan, tidak ada Persebaya lain. Saking bangga dan emosionalnya, sampai suatu hari pernah ikut seleksi Persebaya Junior , alhamdulillah… terdepak di seleksi tahap 2.

Tampaknya, saya harus menempuh jalan lain, menjadi perekam Persebaya saja. Oh ya, saya seangkatan loh dengan  pemain Persebaya kala itu, sebut saja Nurul Huda. Arek Sukodono, Sidoarjo, salah satu sobat di Sekolah Sepak Bola Dolog Jatim, Surabaya.

~ Mamuk Ismuntoro ~