4 Apr 2 Comments mamukismuntoro BLOG

 

Apa yang berubah dari fotografi sejak medium ajaib ini pertama kali digunakan oleh Joseph Nicéphore Niépce pada 1826?. Jika fotografi disebut sebagai kegiatan praktik mengabadikan sesuatu, maka tak ada yang berubah dari fungsi itu hingga sekarang. Namun, jika fotografi dianggap lebih dari sekadar praktik pemotretan, maka sesungguhnya banyak tujuan dan fungsi lain dari fotografi itu sendiri.

Inspirasi, klaim, dan atau plagiat dalam dunia fotografi menjadi sebuah keniscayaan, karena dalam konteks praktik fotografi; kamera, teknik dan gagasan seperti lingkaran setan. Teknik fotografi digunakan oleh banyak orang untuk melanggengkan ketrampilan teknik fotografi itu sendiri atau lebih dari itu, teknik fotografi digunakan sebagai cara atau jalan untuk menyampaikan gagasan.

Menurut catatan socialnomics, populasi penduduk dunia separuhnya berumur di bawah 30 tahun dan 96 % diantaranya bergabung dalam jaringan sosial. Tak ada teknologi komunikasi lain yang mampu menadingi kecepatan pertumbuhan pengguna media sosial. Untuk meraih 50 juta pendengar, radio memerlukan waktu 38 tahun , televisi butuh waktu 13 tahun, internet memerlukan 4 tahun, sementara Facebook hanya butuh waktu kurang dari 1 tahun untuk memikat lebih dari 200 juta penggunanya.

Hari ini, kita hidup dalam era media sosial itu. Era dimana terjadi perubahan mendasar tentang bagaimana cara kita berkomunikasi. Semua yang terlibat dalam komunikasi di media sosial dengan sukarela berbicara tentang dirinya sendiri atau hal di sekelilingnya lewat fotografi, baik yang mereka produksi sendiri atau sekadar mewariskan imaji-imaji yang didapat dari sumber yang tidak diketahui sekalipun.

“Banyak gerakan pendidikan fotografi mengajarkan tentang gagasan, tujuan, etika bahkan dampak visualnya. Sementara, masih banyak praktik fotografi yang berlanjut hingga kini di ruang publik nyaris tanpa takaran-takaran itu”

Berjalan di dua sisi, partisipasi publik dalam menggunakan fotografi sebagai instrumen komunikasi mendorong juga banyak hal baik dan tentu saja hal buruk. Terminologi ‘fotografi partisipatif’ kemudian menjadi sesuatu yang hangat untuk didiskusikan. Kontribusi atas partisipasi itu sudah jelas sulit untuk dikendalikan. Semua pelaku jaringan sosial sama ‘derajatnya’ dalam hal ini. Meski pada dasarnya derajat pengetahuan dan pengalaman visual tiap-tiap pelakunya sungguh beragam.

Di Indonesia, sebuah gerakan yang bermuara untuk menakar ketrampilan fotografi seseorang telah dibentuk dalam sebuah medium yang disebut sertifikasi profesi fotografi. Di dalamnya akan diukur seberapa tinggi pemahaman teknis dan praktik fotografi yang dia miliki, hingga pantas menyandang tugas yang membutuhkan takaran profesinya.  Banyak gerakan pendidikan fotografi mengajarkan tentang literasi visual, gagasan, tujuan, etika bahkan dampak visualnya. Sementara, masih banyak praktik fotografi yang berlanjut hingga kini di ruang publik nyaris tanpa takaran-takaran itu.

Maka singkatnya, fotografi dalam bingkai partisipasi publik menjadi tanggungjawab masing-masing anggota media sosial. Hitam-putih fotografi juga akan menjadi bagian dari tanggungjawab itu. Di luar itu, saya tetap optimis, fotografi sebagai salah satu instrumen komunikasi ruang publik akan tetap memiliki kontribusi yang baik bagi peradaban. Adapun fotografi yang tanpa takaran apapun akan punya ruang tersendiri di hati anggota-anggotanya.

~Mamuk ismuntoro~