28 Dec No Comments mamukismuntoro BLOG , ,

Pertemuan malam itu dengan Paul Piollet ( 80), adalah pertemuan kesekian kalinya bagi kami. Pagi-pagi seperti sebelumya Piollet menelepon saya dari telepon hotel tempat dirinya menginap. Lantas malamnya saya meluncur bersama pak Stevanus Lim, kolega di Matanesia.

Paul Piollet adalah mantan pekerja minyak yang memulai karir profesionalnya sejak 1950-an. Pekerjaan telah membawa dirinya ke belahan minyak dunia mulai Sahara hingga Libya, Teluk Persia hingga Indonesia. Pria sederhana ini adalah satu dari sekian orang asing yang menjadi saksi dan mencatat warisan budaya Nusantara.
Sejak pertama mendarat di Balikpapan, Kalimantan pada tahun 1970-an, Piollet yang tumbuh dan besar di kawasan pegunungan Orcines, Perancis ini mulai terpikat dengan lansekap maritim di Indonesia. Gairah penjelajahannya mendesir kuat. Kapal layar buatan tangan pelaut Nusantara, yang berperan mengangkut barang lintas pulau menginspirasi Piollet untuk mendedikasikan dirinya mendokumentasikan berbagai jenis kapal layar di Indonesia. Baginya, kapal-kapal layar adalah warisan budaya yang tidak diperhatikan dan lambat laut akan hilang.

Berbicara dengan Paul Piollet seperti menjelajah negeri nenek moyang. Dengan kamera Pentax SP 2 ( produksi 1964 ), Piollet mulai merekam dan mencatat kembali berbagai arsip-arsip yang terlupa terkait kapal tradisional. Dia berbicara dengan kapten kapal, pemilik kapal, hingga administratur pelabuhan-pelabuhan tua di Kalimantan, Makasar, Sulawesi, Madura, Gresik dan Surabaya.
Ribuan arsip film positif dari tahun 1970-an hingga 2000-an yang dia hasilkan sebagian kecil telah menjadi 10 buku yang mendokumentasikan berbagai jenis kapal tradisional termasuk orang-orang dan kehidupan masyarakat pesisir Indonesia. “Saat ini saya tidak lagi memotret, saat ini saya bekerja untuk mengarsipkan ribuan foto dalam bentuk buku-buku”, kata penyuka nasi goreng Jawa ini. Dalam bukunya, Paul Piollet tak saja menyuguhkan imaji-imaji kapal layar Nusantara yang sebagian besar telah punah, namun juga daftar nama kapal, bobot dan pemilik kapal.

Malam itu, pertengahan November 2016, Piollet mengaku tidak ada misi khusus untuk datang jauh-jauh dari Perancis ke Surabaya. “Saya hanya cari angin saja kok”, tuturnya dengan senyum. Tentu saja, kedatangan pria sederhana yang hidup tanpa telepon selular dan email ini lebih dari sekadar cari angin bagi kami. Dia kembali membawa buku-bukunya dan menghibahkan lagi arsip film positif tentang perahu di Sulawesi yang direkam pada tahun 1970an.
“ Aku sudah terlalu tua untuk menyimpan banyak arsip foto ini, aku percayakan kepada kalian untuk menyimpannya”, kata Piollet malam itu di hotel tua langgannya di kawasan Gentengkali, Surabaya.

Paviliun Hotel, Gentengkali, Surabaya, November 2016
Mamuk Ismuntoro