16 Oct No Comments mamukismuntoro BLOG , , , , , ,

 

Bagaimana mungkin merindu pada sebuah kota yang baru pertama kali dilihat?  Mungkin saja ini semacam ‘rindu monyet’. Sesaat rindu kemudian hilang tak berbekas.

Tulisan ini disusun setelah lima bulan yang lalu  menepi di Manali,  sebuah kota kecil di negara bagian Himachal Pradesh, India, dekat ujung utara Lembah Kullu di lembah Sungai Beas. Lamat-lamat masih saya ingat bau tepi hutan pinus, keriuhan jalanan utama kota yang dipenuhi orang dan kendaraan,serta gerimis yang kerap datang dan pergi.

Lansekap Manali, dilihat dari desa di pinggiran hutan Pinus.

Manali menjadi tujuan kami berikutnya usai beberapa hari di Kashmir dan sempat transit semalam di Jammu, Ibu kota musim dingin negara bagian Jammu-Kashmir. Saat itu kami dalam rombongan kecil Photo Journey Series. Sebuah platform mentoring fotografi dan bercerita dalam perjalanan yang dibidani Ira Pujiati, Nizam Irpani dan saya sendiri.

Perjalanan perdana Photo Journey Series sejatinya memang dimulai dari Kashmir, berlanjut ke Manali, Jaipur, Agra dan berujung di Delhi. Meski kami mengusung tema perjalanan sebagai ‘Kashmir Photo Journey’, nyatannya kami bergerak cukup jauh.  Teman perjalanan saat itu; Deddy Hariyanto, Sheback, Mang Ano, Ira Pujiati dan Nizam Irpani bersepakat untuk melanjutkan perjalanan darat serta mampir di kota-kota di atas.

 

Sudut desa di Manali. Sebagian warga masih menggunakan kayu bakar untuk memasak.

 

Memasuki Manali

Melihat ke kejauhan dari dalam mobil, kerlip lampu kota dan hotel atau cottage berjajar di bukit hingga kiri-kanan jalan. Kota kecil berpenduduk 8000an jiwa ini cukup sibuk menyandang diri sebagai kota resor. Berpapasan dengan mobil dan bus wisata atau terjebak dalam kemacetan kecil adalah salah satu warna dari kota ini. Kami datang di Manali saat gerimis malam Sabtu, sekitar pukul 21.00 waktu setempat setelah lolos dari kemacetan jalanan kota.

Sesungguhnya, saya tak terlalu suka dengan hiruk-pikuk. Maka cukup berbahagia saat mengetahui mendapatkan penginapan di atas bukit yang relatif sepi. Berterima kasih pada Ira, tour leader sekaligus co-founder Photo Journey Series yang menyiapkan perjalanan ini.

Pagi harinya kami masih berada di penginapan, karena cuaca hujan sejak malam. Situasi ini berjalan hingga siang hari. Maka, dalam setengah hari kami hanya tinggal di penginapan. Beberapa teman mengisi waktu dengan memotret dari balkon atau menyeduh kopi yang dibawa dari kotanya, sementara yang lain tinggal di kamar dengan smartphone-nya.

Di pinggir hutan pinus, sekelompok anak bermain bulu tangkis.

Jeda dari hujan setengah hari, kami memutuskan berjalan kaki menuju kawasan Mall Road di jalanan utama kota Manali. Sebagai bagian dari Photo Journey,  Kami memang berniat melakukan interaksi dan mengambil gambar suasana desa di Manali. Dari penginapan di atas bukit kami melewati hutan pinus. Segar, meski hari sudah siang. Beberapa anak bermain bulu tangkis di pingiran hutan. Kamipun nimbrung, ikut bermain dan bercengkerama dengan mereka.

Cukup menghibur bertemu mereka. Lalu kami melanjutkan berjalan kaki melalui jalan setapak di pinggiran hutan pinus. Kali ini bertemu kembali dengan anak-anak yang bermain di depan rumah mereka. Interaksi kembali terjadi. Beberapa teman mulai berbicara dengan mereka, diselingi tawa dan tak lupa diakhiri dengan wefie.

Mawar di tepi tembok pagar rumah, di dekat jalanan desa yaang berkontur.

 

Label kota resor bagi Manali seketika lenyap saat memasuki desa di pinggir hutan pinus ini. Relatif sepi. Beberapa gadis terlihat mencuci pakaian di tengah desa. Mawar tumbuh subur di pekarangan dan sela-sela pagar tembok rumah.

 

Sunita, 30, mencari rumput untuk ternaknya.

Di kejauhan, kami melihat tiga perempuan berada di pinggiran desa tengah menyabit rerumputan. Kami pun mendekat, berbincang hal-hal kecil tentang siapa dan apa yang kami masing-masing kerjakan di Manali. “Kami mencari rumput untuk ternak,” kata Sunita, 30, satu di antara tiga perempuan yang kami jumpai pagi itu. Lalu perbincangan diakhiri pertukaran nomor kontak dan salam.

 

Pusat Keramaian Manali

Perjalanan di siang bolong sejauh kurang lebih 5 kilometer membawa kami tiba di Mall Road, yang menjadi pusat kota Manali. Toko souvenir, kantor polisi, money changer serta resto berada di kawasan ini. Turis banyak menghabiskan waktu di sini untuk makan, berbelanja atau menghabiskan waktu sambil bercengkerama dan duduk di taman atau kursi pinggir jalan.

Suhu di kota ini berkisar 8 hingga 24 derajat celcius di bulan Mei, namun es krim di Mall Road laku keras dibeli pengunjung. Penjual Pani Puri, camilan khas India berbetuk bola tepung renyah berisi irisan kentang, kacang-kacangan plus rempah ini juga banyak bertebaran di pusat keramaian.

 

Es krim di tengah udara dingin, dan beberapa pemuda India ini menikmatinya.

 

Penjual Pani Puri, bersiap menggelar dagangan di pusat keramaian kota Manali.

 

Pusat keramaian di Mall Road adalah tempat berkumpul warga dan wisatawan sepanjang pagi hingga malam hari.

Di persimpangan, polisi wanita sibuk mengatur jalanan yang riuh. Sheback, satu di antara teman perjalanan memulai perbincangan ringan dengan mbak polisi. Cukup akrab, meski akhirnya polisi tersebut tidak mau diajak wefie.

 

Rehat

Puas menikmati keriuhan Mall Road kami kembali berjalan kaki menuju penginapan. Terbayang jauhnya berjalan kaki, Nizam Irpani, asisten mentor sempat mencoba mencari taksi namun gagal. Dengan semangat yang tersisa kamipun kembali berjalan kaki menuju penginapan. Jelang senja kami melewati pertokoan, cottage dan kembali memasuki pinggiran hutan pinus hingga sampai ke penginapan. Jalan setapak di pinggiran hutan pinus ini adalah jalan pintas menuju penginapan kami yang berada di atas bukit.

Cukup tenang berjalan di gelap pjalan setapak,karena kami berkelompok. Lampu smartphone menjadi penerang perjalanan balik ke penginapan.

Usai makan malam, kami berkumpul di ruang tengah. Menyeduh kopi saset dan melanjutkan sesi diskusi hasil pemotretan selama perjalanan.

Di sudut-sudut Mall Road, Manali, orang-rang menikmati suasana dengan bercengkerama.

 

Di hari terakhir, kami bersepakat kembali ke Mall Road. Berjalan kaki lagi. Beberepa teman ingin membeli oleh-oleh, selain rindu makan mutton dan secangkir chai  di  kedai ‘Mount Views Noddle’s’  yang telah kami kunjungi sehari sebelumnya.

Perjalanan belum selesai. Menepi Manali adalah jeda dari perjalanan kami selanjutnya menuju Jaipur sejauh 800 km.