19 Nov 2 Comments mamukismuntoro BLOG , , , , ,

Keramah-tamahan yang didalamnya adalah tegur sapa, ketulusan serta penghargaan masih mudah ditemui di desa-desa di negeri ini, Indonesia. Jika anda berkunjung ke sebuah rumah di desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Bersiaplah untuk menerima ketulusan mereka saat menyapa dan menghidangkan apapun yang mereka punya. Jika hanya ada air gula hangat, maka itulah penghargaan yang akan mereka berikan.

Tahun 2011, saya berkesempatan berkunjung semalam di desa Ngadas. Bersama sahabat Matanesia, Boby, Bobo “Budi Irawan”, Nugroho Trihamdani dan ‘Doyok’, kami bersepeda motor dari Surabaya. Tiba di siang hari, kami memutuskan untuk menginap dengan harapan mendapatkan momentum pagi dengan bentang alam yang elok, meski saat masih kanak-kanak saya kerap berjumpa pagi yang indah dan malam gulita di rumah kakek di Ponorogo. Kami menginap di salah satu rumah warga di pinggir jalan utama desa. Mendapatkan makam malam, kopi dan tungku penghangat di dapur kami membayar tak lebih dari 100 ribu.

Pasar kaget di sudut desa Ngadas, 2011.

 

Sebuah musholla di pinggir jalan desa Ngadas, 2011. Warga desa Ngadas adalah suku Tengger yang menganut agama Budha, Islam dan Hindu.

 

Usai subuh dan merekam beberapa sudut jalanan desa, saya memasuki salah satu rumah warga desa yang terletak di belakang jalan utama desa. Ucapan selamat pagi dan hidangan kopi menjadi menu paling indah pagi itu. Tentu saja, saya tak melewatkan merekam situasi rumah saat mereka bercengkerama di dapur. Jika menikmati dialog dan kunjungan dari pintu ke pintu di desa Ngadas, bersiaplah untuk ikhlas menerima kehangatan mereka. Karena tak cukup elok menolak teh atau kopi yang mereka suguhkan, meski perut penuh cairan kopi dan teh.

September 2017, di tengah perayaan upacara tradisional Karo di Ngadas, saya menyelinap dari kerumunan persiapan upacara Karo. Berjalan ke sudut-sudut desa yang nyaris saya lupa. Bangunan beton bertingkat mendominasi wajah desa. Rupanya, atribut kawasan wisata yang diberikan pemerintah mendorong warga desa untuk merespon peluang di industri wisata ini. Di kiri-kanan jalanan utama desa, rumah-rumah dengan bangunan beton disewakan untuk wisatawan. Saya nyaris tak mendapatkan sapaan dan dialog warga, seperti tahun 2011 saat memotret orang-orang di sana. Mungkin saya saja yang terlampau sibuk dengan kamera, dan warga sudah terlalu biasa dengan orang-orang yang datang dan pergi menikmati desa mereka.

Desa Ngadas,bertumbuh dengan bangunan beton, 2017.

Ngadas yang ditetapkan sebagai desa wisata sejak 2007 merupakan salah satu desa Suku Tengger yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Bangunan homestay tumbuh subur di desa dengan ketinggian kurang lebih 2200 mdpl.

Lansekap desa Ngadas mulai bercampur dengan bangunan beton untuk penginapan, 2017.

 

Puncak Upacara Karo, warga berdoa dan makan bersama di makam leluhur, 2017.

 

Masyarakat desa hidup cukup sejahtera dari pertanian sayur mayur. Saat perayaan Karo, seluruh warga desa tumpah ruah di pemakaman keluarga. Kebersamaan yang terikat tradisi, udara yang dingin, hamparan kontur pertanian dan pegunungan adalah kemewahan milik warga desa Ngadas. Di persimpangan tradisi, alam dan industri wisata, berharap kemewahan itu akan bertahan. Sebab pariwisata bisa saja membuat sejahtera namun sekaligus berpeluang membuat kerusakan.

~ Mamuk Ismuntoro 2011-2017