28 Dec No Comments mamukismuntoro STORY , , ,

Siang itu,Hanan, 19, berada di atas tribun mengamati suasana lomba pacuan kuda. Sesekali dirinya terlihat berbicara dengan beberapa temannya. Ratusan penonton dari berbagai penjuru desa juga memadati pinggir pacuan kuda yang dibangun di bekas penambangan pasir dan batu seluas 15 hektar di desa Coban Joyo, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Hanan, adalah satu di antara santriwati pondok pesantren An Nasr, kota Batu, Jawa Timur yang datang bersama rombongan pesantren lainnya di Jawa Timur. Siang itu, di tengah terik matahari dan debu pacuan kuda,santriwati asal Tegal ini tengah bersiap mengikuti lomba pacuan kuda antar pondok pesantren.

Hanan, 19, dari pondok pesantren An Nasr, Batu,difoto di depan kandang, sesaat sebelum menuju arena pacuan kuda. (2015)

Hanan, 19, difoto di dekat kandang kuda pacu.

Kuda pacu telah menjadi kegiatan rutin Hanan tiap minggu bersama santri lainnya di pondok An Nasr sejak setahun terakhir. “ Sebenarnya latihan berkuda sudah dimulai sejak saya masuk pondok tahun 2010, namun masih jarang kami lakukan. Ini semacam kegiatan ekstrakurikuler di pondok kami. Setahun terakhir, pondok menyediakan banyak kuda untuk berlatih,” tutur santri asal Tegal ini.

 

Hanan, dikawal santri pria menuju arena pacuan kuda

Penunggang kuda lainnya, Khaula, 31, mengatakan bahwa berkuda adalah wujud pengamalan sunah Rasul, selain memanah dan berenang. Tak hanya pahala yang didapat, juga kesehatan dan kekuatan saat rutin berkuda. “Berkuda itu kerja tim, antara penunggang dan sang kuda. Ada semacam kontak dengan kuda saat menaikinnya. Menundukkannya lewat doa serta dzikir saat berpacu dengannya”, imbuh ibu 3 anak ini.

Sebelum berpacu, Hanan, Khaula dan 3 penunggang lainnya diperkenalkan di depan tribun penonton. Kelima santriwati ini masing-masing dikawal oleh dua orang santri.
Tak lama kemudian, melesatlah para santriwati ini menembus pacuan berdebu sejauh 800 meter. Penonton di tribun serta warga desa di pinggir lintasan bersorak saat para perempuan penunggang kuda ini melibas garis finish. Hanan memasuki finish pertama, disusul santriwati lainnya di posisi ke-2 dan Khaula menyusul di posisi ke-3.

 

“Berkuda itu kerja tim, antara penunggang dan sang kuda. Ada semacam kontak dengan kuda saat menaikinnya. Menundukkannya lewat doa serta dzikir saat berpacu dengannya”

 

Peserta kompetisi kuda pacu melintasi kelokan lintasan pacuan di Pasuruan, Jawa Timur.

 

Hanan, menempati urutan pertama kompetisi kuda pacu antar santri.

 

Di Indonesia, pacuan kuda bagi santri perempuan adalah kegiatan yang langka. Umumnya, santri perempuan dengan kegiatan yang tidak banyak membutuhkan banyak energi. Khusus di pondok pesantren An Nasr, kota Batu, Jawa Timur, pacuan kuda mulai diperkenalkan sejak beberapa tahun silam oleh pengelola pondok. Kegiatan pacuan kuda telah menjadi bagin dari kegiatan ekstra para santri, sebagai bagian dari pengamalan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Photo & Text by Mamuk Ismuntoro